Review Movie: Jack The Giant Slayer

Review Movie: Jack The Giant Slayer

Review Movie Jack The Giant Slayer

Apa judul film yang pertama kali kamu tonton di tahun 2013? Pasti kamu menjawab film superher yang memang saat itu digandrungi banyak peminat. Namun saya sendiri pertama kali nonton Jack The Giant Slayer pada tahun 2019. Nah, pada kesempatan kali ini admin akan membahas Review Movie: Jack The Giant Slayer.

Film ini diadaptasi dari cerita dongeng rakyat Inggris yang berjudul Jack The Giant Killer walaupun isi ceritanya tidak sama persis. Film ini disutradarai oleh sutradara kawakan, yaitu Darren Lemke menggagasnya sejak tahun 2005 dan baru tahun ini terealisasi dihadapan penonton dan disutradarai oleh Bryan Singer.

Dinamika cerita film ini mengalir dengan baik. Pada awalnya saat Jack masih berusia anak-anak selalu mendapat dongeng sebelum tidur dari ayahnya tentang pertarungan manusia dan raksasa. Hal yang tak jauh berbeda juga dialami oleh Isabelle saat masa kecilnya, dimana dia pun sebelum menjelang tidur selalu mendapat dongeng dari Ibunya. Perbedaannya adalah Jack berasal dari keluarga petani miskin sedangkan Isabelle berasal dari keluarga kerajaan. Tampilan gambar saling bergantian antara Jack dan Isabelle yang menunjukkan awal keterkaitan di antara mereka oleh sang sutradara.

Film ini mengambil latar pada abad pertengahan, penonton diperkenalkan kepada Jack (Nicholas Hoult – yang baru saja kita temui di Warm Bodies) dan Isabelle (Eleanor Tomlinson) yang akan menjadi ‘pemandu utama’ ketika kita berkelana di negeri para raksasa. Kala masih bocah, baik Jack maupun Isabelle kerap dipendengarkan hikayat mengenai kaum raksasa yang bertempur besar-besaran melawan umat manusia dimana kemenangan berpihak kepada manusia sehingga raksasa pun terpaksa mengungsi ke sebuah tempat yang terletak di atas awan.

Setelah sedikit pembahasan soal latar belakang dari dua tokoh utama, latar waktu film pun melompat jauh 10 tahun ke depan. Jack hidup bersama sang paman usai ayahanda tercinta menghadap ke Yang Maha Satu. Demi merenovasi rumah, Jack pergi ke kota untuk menjual kudanya. Seorang biarawan menunjukkan ketertarikan dan menukarnya dengan biji kacang alih-alih mata uang. Katanya sih, biji kacang ini ajaib. Memang benar, biji kacang itu mendadak tumbuh menjadi pohon raksasa usai terkena tetesan air hujan.

Jack and the Giant Slayer adalah salah satu bukti betapa Hollywood sudah terlalu malas untuk mengeksplorasi ide-ide segar dan memilih untuk bergantung kepada teknologi demi menyukseskan film. Namun jika kita review film ini berdasarkan alur ceritanya, maka film ini masuk daftar tonton film lawas yang wajib kamu tonton.

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *